Selasa, 13 Januari 2009

PERAN ORANG TUA DALAM PEMBENTUKAN KARAKTER ANAK MUSLIM

BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Anak merupakan amanat yang diberikan oleh Allah Swt, kepada orang tua. Orang tua bertanggung jawab sejak dalam kandungan, memberi nama anaknya dengan nama yang baik, memberi perhatian dan kasih sayang, mengajari dan menyuruhnya sholat, sampai mendidik dan membantunya menjadi manusia yang sempurna. Untuk tujuan inilah maka setiap orang tua ingin membina anaknya agar menjadi orang yang baik, mempunyai kepribadian yang kuat dan sikap mental yang sehat serta akhlak yang terpuji.
Salah satu tugas utama orang tua ialah mendidik keturunannya. Dengan kata lain, dalam relasi antara anak dan orang tua itu secara kodrati tercakupi unsur pendidikan untuk mem bangun kepribadian anak dan mendewasakannya, ditambah dengan adanya kemungkinan untuk dapat didikan pada diri anak, maka orang tua menjadi agen pertama dan terutama yang mampu dan berhak menolong keturunannya serta mendidik anak-anaknya.[1]
Dalam pandangan islam, anak-anak memiliki dunia yang indah dan mempesona namun tetap senantiasa membutuhkan perhatian serta penghargaan untuk melindungi kehidupan dan dunia mereka agar terhindar dari mara bahaya yang mengancam sehingga mereka tetap berada dalam surat Al-Mustaqim.[2]
1Banyak ayat Al-Qur’an yang menerangkan tentang anak, yang kesemuanya menekankan pentingnya rasa cinta dan kasih sayang. Makna kehadiran anak dalam sebuah rumah tangga menurut perspektif Al-Qur’an sangat banyak, diantaranya : anak sebagai karunia serta nikmat dari Allah ( QS. Al-Isra : 6), sebagai perhiasan kehidupan dunia (QS. Al-Kahfi : 46), sebagai penyejuk hati dan penenang jiwa (QS. Al-Furqan : 74), dan masih banyak lagi. Untuk itu penerimaan anak dalam sebuah rumah tangga sangat besar pengaruhnya dalam membentuk kepribadian muslim anak.
Untuk memperoleh keturunan yang berkepribadian muslim, islam menganjurkan supaya memilih calon istri atau suami yang taat beragama. Dari hasil pertemuan dan perpaduan kedua insan yang sama-sama bersih tersebut akan tercipta satu bentuk bangunan rumah tangga yang teduh, kokoh, dan islami, tempat anak-anak akan lahir, sehingga mereka dapat tumbuh dan berkembang dengan pendidikan yang memiliki akar yang kuat dan penuh dengan budi pekerti serta akhlak yang luhur dan terpuji. Para orang tua memiliki tanggung jawab memelihara dan menjaga pertumbuhan dan perkembangan mereka. Sebab mereka dilahirkan dalam keadaan fitrah (mentauhidkan Allah).
Untuk menopang tugas tersebut, Allah menumbuhkan rasa cinta dan kasih sayang di hati setiap orang tua (ayah dan ibu). Dengan berbekal anugerah inilah mereka diharapkan mampu menjaga, memelihara, dan mendidik anak-anakbya dengan baik dan islami.[3]
Dengan demikian peran orang tua dalam pembentukan kepribadian muslim anak sangat besar. Sebagai pemimpin dalam keluarga, orang tua harus mampu menjadi suritauladan bagi anak-anaknya. Karena setiap pengalaman yang dilalui anak baik melalui pendengaran, penglihatan, perilaku, pembinaan dan sebagainya, akan menjadi bagian dari pribadinya yang tumbuh.
Sebagaimana dikemukakan oleh Alex Sobur : Pada hakekatnya keluarga atau rumah tangga, merupakan tempat pertama dan yang utama bagi anak untuk memperoleh pembinaan mental dan pembentukan kepribadian yang kemudian ditambah dan disempurnakan oleh sekolah. Begitu pula halnya pendidikan agama harus dilakukan oleh orang tua sewaktu kanak-kanak dengan membiasakan pada akhlak dan tingkah laku yang diajarkan agama.[4]
Sebagai pendidik, ayah dan ibu memiliki kewajiban yang berbeda karena perbedaan kodratnya. Ayah berkewajiban mencari nafkah untuk kebutuhan keluarganya melalui pemanfaatan karunia Allah SWT, di muka bumi dan selanjutnya menafkahkan kepada anak istrinya. Kewajiban ibu adalah menjaga, memelihara, dan mengelola keluarga di rumah suaminya, terlebih lagi mendidik dan merawat anaknya.[5]
Dalam ajaran agama, anak merupakan amanat Allah SWT, atas orang tua. Untuk itu orang tua berkewajiban menjaga dan mendidiknya supaya selamat dunia dan akhirat. Bahkan keselamatan kehidupan keluarga juga merupakan tanggung jawab orang tua. Sebagaimana firman Allah dalam surat At-Tahrim, ayat : 6:


Artinya : “Hai orang-orang yang beriman. Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.”[6]

Dari firman Allah tersebut, kita bisa mengambil kesimpulan bahwa islam mengajarkan kepada orang tua supaya menjaga diri dan keluarganya agar tidak masuk kedalam siksa api neraka. Untuk itu sudah menjadi kewajiban orang tua.
Untuk selalu memasukkan pendidikan agama dalam keluarga supaya anak-anaknya mempunyai ketaqwaan yang tinggi dan berkepribadian muslim, sehingga menjadi keluarga yang sakinah.
Dalam masyarakat kita akhir-akhir ini banyak ditemukan keluarga, keluarga yang tidak harmonis. Pembagian peran anggota keluarga menjadi tidak ideal. Seorang ibu yang awalnya hanya mengurusi pengelolaan kebutuhan keluarga dan mendidik anak-anaknya, mulai ikut mencari nafkah dan menuntut hak serta kewajiban yang sama dengan suami, akibatnya sering terjadi konflik dalam keluarga, dan membuat suasana rumah tangga tidak tentram. Kesibukan orang tua di luar rumah menjadikan mereka tidak mempunyai waktu untuk memperhatikan pendidikan anak-anaknya. Bila keadaan ini terus berlanjut akan memberikan dapak negatif pada perkembangan pribadi anak.
Tidak bisa kita pungkiri lagi, bahwasanya secara keseluruhan orang tualah yang mempunyai kompetensi tertinggi dalam memberikan pendidikan tergadap anak sedini mungkin, sebab ia akan mengukir dan mewarnai pribadi anak tersebut. Sebagaimana sabda Rosulullah Saw.



Artinya : “Tiada manusia lahir (dilahirkan)kecuali dalam keadaan fitrah, maka orang tuanyalah yang menjadikan ia (kafir) yahudi, nasrani atau majus.”. ( Muttafaqun’Alaih).[7]

Anak dalam perkembangannya, seperti halnya anak-anak di desa pecabean, yang berada pada masa pancaroba atau masa transisi, kepribadian mereka belumlah stabil dan masih sangat mudah terpengaruh oleh lingkungan yang negatif yang paling mudah mempengaruhi mereka. Apalagi di era globalisasi ini, dimana teknologi dan arus Informasi sudah berkembang dengan pesat, sudah tentu sangat mempengaruhi anak-anak yang mempunyai alat komunikasi (Handphone) yang canggih dengan kamera, video, inframerah dan masih banyak lagi layanan yang ditawarkan, sehingga anak membutuhkan perhatian, bimbingan, dan asuhan orang tua menuju kepribadian yang baik.
Kaitannnya dengan obyek penelitian, maka penulis memilih desa Pecabean, Kec. Pangkah, Kab. Tegal, untuk dijadikan obyek penelitian. Desa Pecabean bukanlah desa yang statis, namun merupakan desa yang berkembang terutama jika dilihat dari pembangunan fisik, seiring dengan kemajuan Ilmu Pengetahuan dan teknologi, Pasalnya perkembangan Ilmu Pengetahuan dan teknologi ini, sedikit banyak berpengaruh terhadap gaya hidup masyarakatnya. Untuk mencegah generasi mereka agar terhindar dari arus pergaulan yang membahayakan, maka masyarakat Pecabean yang mayoritas beragama Islam, giat dalam mengembangkan pendidikan agama untuk anak-anak, seperti didirikannya Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA) dan sekolah Madrasah Diniyah. Selain itu kegiatan-kegiatan keagamaan lainnya, baik dikalangan orang tua, remaja maupun anak-anak.
Namun demikian perkembangan zaman tetap berpengaruh terhadap kehidupan masyarakat Pecabean. Adanya sebagian remaja yang senang hura-hura serta sikapnya yang ugal-ugalan. Ada juga yang dalam berpakaian mengikuti trend-trend masa sekarang yang tidak islami.
Akan tetapi sebagian besar masyarakat masih memegang nilai-nilai ajaran agama, mereka rajin melakukan shalat, mengikuti pengajian-pengajian, sikap dan tutur katanya sopan, menghormati sesama, dan lain sebagainya. Keadaan yang demikian ini tentulah tidak lepas dari faktor-faktor yang mempengaruhinya, seperti lembaga pendidikan, lingkungan masyarakat serta lingkungan keluarga.
Dari fenomena diatas, Penulis merasa tertarik untuk meneliti keluarga yang berhasil mendidik anaknya di desa tersebut, apa dan bagaimana peran mereka dalam membentuk kepribadian anak sehingga tetap berada di jalan agama Allah dan tidak mudah terpengaruh oleh faktor-faktor yang dapat merusak kepribadiannya.

B. RUMUSAN MASALAH
Dari Latar Belakang di atas, maka penulis dapat menentukan rumusan masalah sebagai berikut :
1. Bagaimana peran orang tua dalam membentuk kepribadian muslim anak di Desa Pecabean, Kec. Pangkah, Kab. Tegal ?
2. Usaha-usaha apa yang dilakukan oleh orang tua dalam pembentukan kepribadian muslim anak di Desa Pecabean, Kec. Pangkah, Kab. Tegal ?
3. Faktor apa yang mempengaruhi perkembangan Kepribadian anak di Desa Pecabean, Kec. Pangkah, Kab. Tegal.




C. TUJUAN PENELITIAN
Pembahasan dan penulisan penelitian ini mempunyai tujuan yaitu sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui peran orang tua dalam membentuk kepribadian muslim anak didesa Pecabena Kec. Pangkah Kab. Tegal.
2. Untuk mengetahui usaha-usaha yang dilakukan oleh orang tua dalam pembentukan kepribadian muslim anak di desa Pecabean Kec. Pangkah Kab. Tegal.
3. Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi kepribadian anak didesa Pecabena Kec. Pangkah Kab. Tegal.

D. KERANGKA PEMIKIRAN
1. Peran Orang Tua Terhadap Kepribadian Anak.
a. Kedudukan Orang Tua
Keluarga, terutama orang tua atau bapak ibu, memiliki kedudukan yang istimewa dimata anak-anaknya. Karena orang tua mempunyai tanggung jawab yang besar untuk mempersiapkan dan mewujudkan kecerahan hidup masa depan anak, maka mereka dituntut untuk berperan aktif dalam membimbing anak-anaknya dalam kehidupannya didunia yang penuh cobaan dan godaan dalam hal ini bapak ibu menempati posisi sebagai tempat rujukan bagi anak, baik dalam soal moral maupun untuk memperoleh informasi. Peran ini harus disadari oleh seseorang semenjak ia menjadi ibu atau bapak dari anak-anak yang menjadi amanahnya. [8]
Sebagai rujukan moral, orang tua harus memberikan teladan yang baik. Oleh karena itu seorang bapak atau ibu dituntut untuk bertingkah laku yang baik dan benar dalam kehidupan dan kebiasaan sehari-hari. Dengan demikian orang tua akan dapat selalu menempatkan dirinya dalam posisi sebagai panutan, pemberi teladan dan rujukan moral yang dapat dipertanggung jawabkan bagi anak-anaknya.
Tanggung jawab yang paling menonjol dan diperhatikan oleh Islam adalah tanggung jawab orang tua terhadap anak-anaknya yang berhak menerima pengarahan, pengajaran dan pendidikan dari mereka. Pada hakikatnya tanggung jawab itu adalah tanggungan yang besar sifatnya dan sangat penting. Sebab tanggung jawab itu dimulai sejak masa kelahiran sampai berangsur-angsur anak mencapai masa analisa, pubertas, dan sampai anak menjadi dewasa yang memikul segal kewajiban.[9]
Sebagai orang tua yan hidup pada zaman sekarang mereka harus mendidik dan mempersiapkan anak-anak meeka dengan matang. Sebab anak akan hidup pada zaman yang berbeda dengan zaman yang dialami oleh orang tua dahulu, sehingga mereka bisa menghadapi keadaan zaman yang semakin maju. Dalam hal ini Rosulullah SAW. Bersabda :


Artinya : ”didiklah anak-anakmu karena mereka itu dijadikan buat menghadapi zaman yang sama sekali lain dari zamanmu ini”.[10]

b. Pengembangan aspek keimanan dan akhlakul karimah anak
Setiap anak dilahirkan dalam keadan fitrah. Orang tua dan lingkungan anaklah yang mempengaruhi dan membentuk kepribadian, prilaku dan kecenderungannya sesuai dengan bakat yang ada dalam dirinya. Tetapi pengaruh yang kuat dan cukup langgeng adalah kejdian dan pengalaman masa kecil sang anak yang tumbuh dari suasana dari keluarga yang ia tempati. Sabda Nabi saw :
” Tiada manusia lahir (dilahirkan) kecuali dalam keadaan fitrah, maka orang tuanyalah yang menjadikan ia beragama Yahudi, Nasrani, atau Majusi”.[11]
Berdasarkan hadits di atas, maka tidak ragu lagi bahwa lingkungan terutama orang tua memiliki peranan yang besar dalam mendidik dan mempengaruhi anak-anak. Seorang anak akan meniru kebijakan dan kebiasaan dalam keluarganya. Hal ini tidak sekedar pada ucapan-ucapan saja, tetapi melebarsampai pada hal-hal yang ada diluarnya, misalnya makna-makna, petunjuk-petunjuk, dan pengalaman-pengalaman.[12]
Dari segi perilaku, seorang anak akan menyerap pola perilaku yang umum berlaku dimana ia berada yang kemudian mengkristal pada tingkah lakunya. Anak-anak biasanya menggunakan timbangan akhlak sebagai pijakan dalam melihat segala bentuk kehidupan.
Dari aspek sosial, seorang anak terbentuk ras cintanya kepada negara dan lingkungannya dimulai dari rasa perlindungannya pada keluarga, kemudianmelebar keseluruh kehidupan, baik yang bersifat pesimis atau optimis.
Perlakuan lemah lembut yang penuh dengan kasih sayang, terutama dari kedua orang tuanya, merupakan unsur positif lainnya dalam kepribadiannya. Hubungan ibu dan bapak sesama mereka mencerminkan kehidupan sakinah dan kasih sayang seperti telah diajarkan dalam Islam. Jika orang tuanya taat beribadah, patuh melaksanakan ajaran agama maka si anak akan menyerap nilai-nilai agama yang dilihat, didengar dan dialaminya dalam hidup orang tuanya.[13]
Latihan dan pembiasaan diri untuk hidup sesuai dengan petunjuk agama, termasuk sopan santun, tutur kata, pola tingkah laku dan lainnya harus dicontohkan kepad anak. Latihan dan pendidikan moral yang bersumber pada agama Islam akan dapat menjadi pengawas bagi kepribadiannya.
Semua sikap orang tua selama seseorang dalam masa kanak-kanak secara tidak langsung dan tidak sengaja merupakan pendidikan moral dan menjadi unsur dalam pembianaan kepribadian. Oleh karena itu seorang anak yang dilahirkan dalam keluarga yang taat beragama, rukun, damai serta berakhlak mulia, maka pada masa dewasanya nati akan daapt menikmati kebahagiaan hidup sebagai manusia yang taat beragama.
Tuntun yang telah diberikan berdasarkan nilai-nilai keislaman ditujukan untuk membina kepribadian anak menjadi pribadi muslim. Dengan adanya latihan dan pembiasaan sejak masih bayi, diharapkan agar anak-anak dapat menyesuaikan sikap hidup dengan kondisi yang bakal mereka hadapi kelak. Dengan demikian pembentukan kepribadian muslim pada dasarnya merupakan suatu pembentukan kebiasaan yang baik dan serasi dengan nilai-nilai akhlakul karimah.
Sasaran yang dituju dalam pembentukan kepribadian muslim ini adalah kepribadian yang memiliki akhlak yang mulia dan tingkat kemuliaan akhlak erat kaitannya dengan tingkat keimanan. Sebab Nabi mengemukakan, ”Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah orang mukmin yang paling baik akhlaknya”.[14]
Maka untuk membentuk kepribadian muslim anak, hendaknya orang tua mendidik anak dengan pendidikan keimanan dan akhlakul karimah.
1) Pengembangan aspek keimanan anak
Keimanan merupakan sumber segala keutamaan dan kesempurnaan, ada pertalian yang erat antara iman dan moral. Pendidikan keimanan merupakan pendidikan perasaan dan jiwa, sedang keduanya telah ada dan melekat pada diri anak sejak kelahirannya (fitrah), maka setiap orang tua harus mampu menanamkan rasa keimanan pada anak dengan sebaik-baiknya, karena perasaan ke-Tuhanan akan hadir secara sempurna dalam pribadi anak yang berperan sebagai dasar berbagai aspek kehidupannya kelak.
Dalam pengembangan aspek keimanan anak, ayah dan ibu hendaklah memperhatikan wasiat Rosulullah saw. Sebagai berikut :
- Membuka kehidupan anak dengan kalimat
- Mengenalkan hukum halal dan haram kepada anak
- Menyuruh anak untuk beribadah pada usia 7 tahun
- Mendidik anak untuk mencintai Rosulullah, Ahli baitnya dan membaca Al-Qur’an.[15]
2) Pengembangan aspek akhlak anak
Pendidikan akhlak biasa dikenal dengan pendidikan tingkah laku, pendidikan moral, atau pendidikan etika. orang tua yang bijaksana akan senantiasa mengarahkan perkembangan anak menuju kesempurnaan termasuk didalamnya akhlak anak yang sesuai dengan ajaran Islam
Akhlak merupakan kelakuan yang timbul dari hasil perpaduan antara hati nurani, pikiran, perasaan, bawaan, dan kebiasaan yang menyatu, membentuk suatu kesatuan tindak akhlak yang dihayati dalam kenyataan hidup keseharian. Dari kelakuan itu lahirlah perasaan moral, yang terdapat didalam diri manusia sebagai fitrah, sehingga ia mampu membedakan mana yang baik dan mana yang jahat, mana yang bermanfaat dan mana yang tidak berguna, mana yang cantik dan mana yang buruk. [16]
c. Kepribadian Muslim
Menurut Zakiyah Darajat, kepribadian adalah suatu yang abstrak yang sukar dilihat atau diketahui secara nyata.
Untuk mengetahui Kepribadian seseorang, diantaranya dengan melihat gejala-gejalanya, yaitu yang tercermin dalam cara bergaul, berpakaian, berbicara, dan menghadapi persoalan atau masalah. [17]
Kepribadian muslim dapat diartikan sebagai identitas yang dimiliki seseorang sebagai ciri khas dari keseluruhan tingkah kalu secara lahiriah maupun sikap batinnya. [18]
Sedangkan menurut Ahmad D. Marimba Kepribadian muslim adalah kepribadian yang seluruh aspek-aspeknya yakni baik tingkah laku luarnya, Kegiatan-kegiatan jiwanya, maupun filsafat hidup dan kepercayaannya menunjukkan pengabdian kepada Tuhan, penyerahan diri kepada-Nya. [19]
Menurut H. Abu Tauhid, ciri-ciri manusia yang berkepribadian muslim adalah sebagai berikut :
- Beriman dan bertaqwa
- Giat dan gemar beribadah
- Berakhlak mulia
- Sehat jasmani, rohani dan aqli
- Giat menuntut ilmu
- Bercita-cita bahagia dunia dan akhirat. [20]
Kepribadian bukan terjadi dengan serta merta, akan tetapi terbentuk melalui proses kehidupan yang panjang. Hal ini selaras dengan ungkapan zakiyah drajat, bahwa kepribadian terbentuk melalui semua pengalaman dan nilai-nilai yang diserapnya dalam.
Pertumbuhan dan perkembangan, terutama pada tahun-tahun pertama dari umurnya. [21]
E. METODE PENELITIAN
1. Jenis Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif atau Library research. Penelitian dengan pendekatan kualitatif lebih menekankan analisisnya pada proses penyimpulan dedukatif dan indukatif serta pada analisis terhadap dinamika hubungan antarfenomena yang diamati, dengan menggunakan logika ilmiah. [22]
2. Tempat Penelitian
Penulisan memilih tempat penelitian sesuai dengan tempat tinggalnya untuk lebih memudahkan jalannya penelitian, yaitu di Desa Pecabean Kecamatan Pangkah Kabupaten Tegal.
3. Subyek dan Obyek Penelitian
Subyek dari penelitian adalah keluarga muslim yang terdiri dari bapak, ibu dan anak yang hidup harmonis dan cukup baik untuk diwawancarai sebagai responden.
Adapun obyek dari penelitian adalah peran orang tua dalam pembentukan Kepribadian muslim anak.
4. Metode Pengumpulan Data
a. Kajian Pustaka
Penulisan menggunakan buku-buku tentang kepribadian muslim anak untuk mendapatkan data.
b. Interview
Interview yang sering disebut wawancara atau kuesioner lisan, adalah sebuah dialog yang dilakukan pewawancara untuk memperoleh informasi dari terwawancara.[23]
Metode ini penulis gunakan untuk mendapatkan Informasi dari responden yang berkaitan dengan obyek penelitian, juga kepala desa dan staf-stafnya tentang gambaran umum desa, letak geografis serta keadaan penduduk.
c. Observasi
Observasi sebagai metode ilmiah dapat diartikan sebagai pengamatan, pencatatan dengan sistematis tentang fenomena-fenomena yang diselidiki.[24]
d. Dokumentasi
Dokumentasi dari asal katanya dokumen, yang artinya barang-barang tertulis. Dalam melaksanakan metode dokumentasi, penulisan menyelidiki benda-benda tertulis seperi buku-buku, majalah, dokumen, peraturan-peraturan, notulen rapat, catatan harian, dan sebagainya.[25]
5. Metode Analisis Data
Dalam penulisan skripsi ini penulis menggunakan metode analisa data deskriptif kualitif yaitu analisa data dengan memberikan predikat kepada variabel yang diteliti sesuai dengan kondisi yang sebenarnya.[26] Dari hasil pengolahan dan penganalisaan data ini, kemudia diberi Interprestasi terhadap masalah yang pada akhirnya digunakan oleh penulis sebagai dasar untuk menarik kesimpulan. Dalam menganalisa data ini penulis menggunakan metode berpikir sebagai berikut :
a. Deduktif
Yaitu metode berfikir untuk mengambil suatu kesimpulan dengan berangkat dari peristiwa umum menuju ke khusus.[27]
b. Induktif
Yaitu metode berfikir untuk mengambil suatu kesimpulan dengan berangkat dari peristiwa khusus kemudian ditarik kesimpulan yang bersifat umum.[28]


F. SISTEMATIKA PENULISAN SKRIPSI
Dalam penulisan skripsi ini penulis membagi menjadi tiga bagian, yaitu :
1. Bagian Muka
Pada bagian muka ini terdiri dari : Halaman sampul, halaman judul, halaman nota pembimbing, halaman pengesahan, halaman motto, halaman kata pengantar dan halaman daftar isi serta lampiran-lampiran.
2. Bagian Isi terdiri dari lima bab, yaitu :
BAB I : Pendahuluan berisi tentang : latar belakang, rumusan masalah, tujuan penulisan/penelitian, kerangka pikiran, metode penelitian, dan sistematika penulisan skripsi.
BAB II : Pembentukan kepribadian Muslim berisi tentang : Kepribadian Muslim, pengertian kepribadian muslim, aspek-aspek kepribadian, proses pembentukan kepribadian muslim dan faktor-faktor yang mempengaruhi kepribadian muslim.
BAB III : Membahas gambaran umum Desa Pecabean yang meliputi : letak geografis, kondisi masyarakat, kegiatan keagamaan, sarana dan prasarana, struktur pemerintahan desa, gambaran keluarga responden.
BAB IV : Peran orang tua dalam pembentukan kepribadian muslim anak di Desa Pecabean, Kec. Pangkah, Kab. Tegal, usaha orang tua dalam pembentukan kepribadian muslim pada anak, Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan kepribadian anak.
BAB V : Penutup berisi tentang : Kesimpulan, saran-saran, dan kata penutup.
3. Bagian Akhir
Pada bagian akhir ini terdiri dari : Daftar pustaka, lampiran-lampiran, daftar riwayat hidup penulis.
[1] Dr. Kairtini Kartono, Quo Vadis Tujuan Pendidikan, Bandung : CV Mandar Maju, 1991, halaman 63
[2] Muhyiddin Abdul Hamid, Kegelisahan Rasulullah Mendengar Tangis Anak, Yogyakarta : Mitra Pustaka, 1999, halaman 1
[3] Ibid. hal. 1
[4] Chalijah Hasan, Dimensi-Dimensi Psikologi Pendidikan, Surabaya : Al-Ikhlas, halaman 50
[5] Muhaimin dan Abdul Mujib, Pemikiran Pendidikan Islam, Bandung : Tri Garda Karya, 1993, halaman 290.
[6] Depag RI, Al Qur’an dan Terjemahnya, Jakarta : PT. Bumi Restu, 1978, halaman. 951.
[7] H. Abu Tauhid, Seratus Hadits Tentang Pendidikan dan Pengajaran, Purworejo : Imam Puro, 1978, halaman. 1.
[8] Bakir Yusuf Barmawi, Pembinaan Kehidupan Beragama Islam Pada Anak, Semarang : Utama Semarang, 1993, halaman. 16-17.
[9] Abdullah Nasikh Ulwan, Pedoman Pendidikan Anak Dalam Islam 1, Semarang : CV. Asy-syifa, 1981, hal. 143
[10] Umar Hasyim, Cara Mendidik Anak Dalam Islam II, Surabaya : PT. Bina Ilmu, 1983, hal. 14
[11] H. Abu Tauhid, Op. Cit., hal. 1
[12] Ma’ruf Zurayk, Aku Dan Anakku, Bandung : Al-Bayan, 1998, hal. 22
[13] Bakir Yusuf Barmawi, Op. Cit. Hal. 35
[14] Jalaluddin dan Usman Said, Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1996, hal. 95
[15] Abdullah Nasikh Ulwan, Op. Cit., hal. 152-153
[16] Zakiyah Darojat, Pendidikan Islam Dalam Keluarga dan Sekolah, Jakarta: Ruhama, 1995, hal. 9
[17] Zakiyah Darajat, Kepribadian Guru, Jakarta : Bulan Bintang, 1982, hal. 16.
[18] Jalaludin dan Usman Sad, Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta : PT. Raja Grafindo Persanda, 1996. hal. 92.
[19] Ahmad D. Marimba, Pengantar Filsafat Pendidikan Islam, Bandung : PT. Al-Ma’arif, 1989, hal. 68.
[20] Abu Tauhid, Beberapa Aspek Pendidikan Islam, Yogyakarta : Sekretariat ketua Jurusan Fakultas Tarbiyah IAIN SUKA, 1990, hal. 26.
[21] Zakiyah Darajat, Pendidikan Islam Dalam Keluarga dan Sekolah, Jakarta : Ruhama, hal. 62.
[22] Saefudin Azwar, Metode Penelitian, Yogyakarta : Pustaka Pelajaran, 2003, hal. 5.
[23] Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, Jakarta : Rineka Cipta. 1996, hal.144
[24] Sutrisno Hadi, Metodologi Research II, Yogyakata : Yayasan Penerbit. Fakultas Psikologi UGM, 1987, hal. 136
[25] Suharsimi Arikunto, Opcit, hal. 148
[26] Suharsimi Arikunto, Manajemen Penelitian, Jakarta : Rineka Cipta, 1990, hal. 353
[27] Sutrisno Hadi, Opcit, hal. 42
[28] Ibid, hal. 36

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar